PC PMII Pamekasan Tolak Kedatangan Mendikdasmen, Soroti Krisis Pendidikan dan Politik Seremonial

Avatar

- Pewarta

Kamis, 21 Mei 2026 - 18:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption: Ketua Umum PC PMII pamekasan, Fahril Anwar, saat sambutan pembukaan kegiatan BIMAS PT komisariat UIM di kantor PC NU pamekasan (Sumber Foto: Ridho/dok Pilar Pos)

Caption: Ketua Umum PC PMII pamekasan, Fahril Anwar, saat sambutan pembukaan kegiatan BIMAS PT komisariat UIM di kantor PC NU pamekasan (Sumber Foto: Ridho/dok Pilar Pos)

PAMEKASAN, Pilar Pos || Rencana Kedatangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dalam agenda “Senam Anak Indonesia Hebat” bersama 24.114 siswa di Kabupaten Pamekasan, Madura, yang akan diselenggarakan di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan pada Minggu (24 Mei 2026) memdatang mendapat penolakan dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan. Kamis (21/5/2026).

Penolakan itu disampaikan karena PMII menilai pemerintah lebih mengedepankan agenda seremonial dibanding menyelesaikan persoalan mendasar pendidikan di daerah.

PC PMII Pamekasan menyoroti kondisi pendidikan di Kabupaten Pamekasan yang hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari infrastruktur sekolah rusak, ketimpangan akses pendidikan, hingga nasib tenaga pendidik honorer yang belum mendapatkan kepastian kesejahteraan dan status kerja.

BACA JUGA :  Gaungkan Gerakan Peduli Tanpa Narkoba, Satreskoba Sampang Ajak Pelajar dan Masyarakat Jauhi Barang Haram

Berdasarkan data yang dihimpun organisasi tersebut, pada tahun 2026 terdapat 187 sekolah di Kabupaten Pamekasan dari jenjang TK, SD hingga SMP yang masih diusulkan untuk diperbaiki. Sejumlah ruang kelas bahkan dilaporkan mengalami kerusakan berat dan mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Di sisi lain, persoalan guru honorer juga dinilai belum menemukan solusi jelas. Pemerintah pusat masih dihadapkan pada proses transisi kebijakan bagi guru non-ASN yang hingga kini dinilai belum memberikan kepastian status maupun perlindungan kesejahteraan.

Ketua Umum PC PMII Pamekasan, Fahril Anwar, mengatakan pendidikan tidak boleh dijadikan instrumen pencitraan politik melalui kegiatan seremonial yang tidak menyentuh kebutuhan riil masyarakat.

BACA JUGA :  Proyek Sekolah Rakyat Rp200 Miliar di Sampang Baru 73 Persen, Target Rampung Akhir Juni Terancam Molor

“Ketika negara lebih sibuk menghitung jumlah peserta senam dibanding jumlah sekolah rusak, maka pendidikan sedang kehilangan orientasi etik dan intelektualnya. Pemerintah seolah membangun panggung megah di atas lantai pendidikan yang retak,” ujarnya.

Menurut Fahril, pendidikan seharusnya difokuskan pada peningkatan kualitas sarana belajar, pemerataan akses pendidikan, dan kesejahteraan tenaga pendidik, bukan sekadar membangun citra keberhasilan melalui kegiatan massal.

Ia juga mengkritik keterlibatan pelajar dalam agenda seremonial yang dinilai lebih berorientasi pada visualisasi keberhasilan birokrasi ketimbang penguatan kualitas pendidikan secara substantif.

“Pendidikan bukan festival tubuh yang digerakkan serentak di stadion, melainkan proses memanusiakan manusia melalui ilmu pengetahuan yang adil, kritis, dan membebaskan,” katanya.

Dalam pernyataan sikapnya, PC PMII Pamekasan menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah. Pertama, menolak politik seremonial pendidikan yang tidak menyentuh akar persoalan di daerah. Kedua, mendesak pemerintah memprioritaskan penyelesaian krisis infrastruktur pendidikan dan sekolah rusak di Kabupaten Pamekasan.

BACA JUGA :  Bantuan Beras Disalurkan, Pemdes Sokobanah Daya Sampang Pastikan Tepat Sasaran

Ketiga, menuntut kepastian kesejahteraan dan perlindungan status tenaga pendidik, khususnya guru honorer. Keempat, menolak eksploitasi pelajar dalam agenda pencitraan kekuasaan. Kelima, mendesak Kemendikdasmen menghadirkan kebijakan pendidikan yang substantif, partisipatif, dan berbasis kebutuhan masyarakat daerah.

PMII menilai persoalan pendidikan tidak akan selesai melalui slogan maupun kegiatan seremonial semata. Organisasi mahasiswa itu meminta pemerintah lebih fokus pada pembenahan substansi pendidikan agar kualitas pendidikan di daerah benar-benar mengalami perbaikan.

Penulis : Ridho

Editor : Redaksi

Sumber Berita : Pilar Pos

Follow WhatsApp Channel pilarpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mobil Xenia Terbakar Usai Isi Pertalite di SPBU 5469202 Pliyang Sampang, Tangki BBM Modifikasi Jadi Sorotan
Baru Sebulan Selesai Sudah Retak dan Mengelupas, Mutu Rabat Beton Dana Desa Gunung Eleh Sampang Disorot
Dijanjikan Kerja di Dubai, PMI Asal Sampang Diduga Jadi Korban TPPO di Libya, Polisi Mulai Telusuri Jalur Keberangkatan
Geger! Oknum Kapus dan Staf Perempuan Digerebek di Ruang Kerja Puskesmas Robatal Sampang
Perkuat Organisasi dan Pengabdian, Rakercab II PSHT Cabang Sampang Jadi Momentum Evaluasi
Diduga Tinggalkan Rumah Saat Kompor Masih Menyala, Rumah Warga Sampang Terbakar
Tiga Remaja Berboncengan Kecelakaan di Pangarengan Sampang, Satu Pelajar Meninggal Dunia
Di Balik Teka-Teki Bakal Calon Ketua PJS, Jelang Kongres ke-2: Begini Pesan Tokoh Terpopuler Sampang

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:40 WIB

Mobil Xenia Terbakar Usai Isi Pertalite di SPBU 5469202 Pliyang Sampang, Tangki BBM Modifikasi Jadi Sorotan

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:29 WIB

Baru Sebulan Selesai Sudah Retak dan Mengelupas, Mutu Rabat Beton Dana Desa Gunung Eleh Sampang Disorot

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:15 WIB

Dijanjikan Kerja di Dubai, PMI Asal Sampang Diduga Jadi Korban TPPO di Libya, Polisi Mulai Telusuri Jalur Keberangkatan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:12 WIB

Geger! Oknum Kapus dan Staf Perempuan Digerebek di Ruang Kerja Puskesmas Robatal Sampang

Minggu, 4 Oktober 2026 - 14:28 WIB

Perkuat Organisasi dan Pengabdian, Rakercab II PSHT Cabang Sampang Jadi Momentum Evaluasi

Berita Terbaru