Pamekasan, Pilar Pos | PMII UIN MADURA melalui aliansi empat rayon, yakni Rayon Saptawikrama, Rayon Mandilaras, Rayon Sakera, dan Rayon Fasya menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) video dokumenter *Pesta Babi* pada Selasa malam (malam Rabu) pukul 19.00 WIB bertempat di Rumah Pergerakan PMII UIN Madura. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan kader PMII UIN Madura sebagai bagian dari penguatan tradisi intelektual, refleksi sosial, dan ruang dialektika kritis mahasiswa terhadap realitas bangsa. Selasa, 19/05/2026.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya membangun kesadaran ilmiah kader terhadap dinamika sosial-politik masyarakat kontemporer. Dokumenter *Pesta Babi* dinilai menghadirkan potret simbolik mengenai ketimpangan sosial, krisis moral, budaya kekuasaan, hingga praktik-praktik yang memperlihatkan jarak antara elit dan realitas masyarakat bawah. Dalam perspektif sosiologis, film tersebut dipandang tidak sekadar sebagai karya audio-visual, melainkan medium kritik sosial yang merepresentasikan kegelisahan publik terhadap arah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui forum nobar dan diskusi tersebut, kader PMII diajak membaca hubungan antara isi dokumenter dengan kondisi pemerintahan hari ini, mulai dari persoalan ketidakadilan sosial, melemahnya sensitivitas terhadap rakyat kecil, hingga fenomena oligarki dan dominasi kepentingan elit dalam ruang demokrasi. Diskursus yang berkembang menekankan pentingnya menjaga fungsi kontrol sosial mahasiswa agar demokrasi tetap berjalan di atas prinsip keadilan, transparansi, dan keberpihakan terhadap masyarakat.
Ketua Rayon Saptawikrama, Moh. Ridho Nur Abdillah, menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga kesadaran kritis di tengah situasi sosial-politik yang semakin kompleks.
“Dokumenter ini bukan hanya tontonan, melainkan cermin sosial yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan, kepentingan, dan ketimpangan dapat membentuk realitas masyarakat. Mahasiswa harus hadir sebagai kekuatan intelektual yang mampu membaca keadaan secara objektif dan tetap berpihak pada nilai kemanusiaan,” terangnya.
Ketua Rayon Mandilaras, M. Rosi Maulana, menilai bahwa ruang-ruang reflektif seperti nobar dokumenter perlu terus dihidupkan agar mahasiswa tidak kehilangan sensitivitas sosial di tengah derasnya arus pragmatisme.
“Ketika kritik mulai dibungkam oleh kepentingan dan masyarakat perlahan kehilangan ruang suara, mahasiswa harus tetap menjaga tradisi berpikir kritis. Film dokumenter menjadi salah satu medium efektif untuk membangun kesadaran kolektif terhadap realitas bangsa,” imbuhya.
Sementara itu, Ketua Rayon Sakera, M. Nabil Mudarris, mengatakan bahwa kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan dan keberanian moral dalam merespons berbagai persoalan publik.
“Mahasiswa tidak boleh apatis terhadap kondisi sosial dan pemerintahan hari ini. Tradisi diskusi, kajian, dan refleksi harus terus dirawat agar kampus tetap menjadi pusat kontrol moral dan intelektual bagi masyarakat,” pungkasnya.
Di sisi lain, Ketua Rayon Fasya, M. Abdi F.R., menegaskan bahwa kader PMII perlu memperkuat budaya literasi kritis, termasuk melalui media audio-visual yang mampu menghadirkan realitas secara lebih dekat dan kontekstual.
“Generasi muda hari ini hidup di tengah banjir informasi dan pencitraan. Karena itu, kader harus mampu membedakan antara realitas dan narasi yang dibangun oleh kepentingan tertentu. Dokumenter seperti ini membantu mahasiswa untuk tetap peka terhadap persoalan rakyat,” tambah M. Abdi F.R.
Melalui kegiatan tersebut, Aliansi Rayon PMII UIN Madura berharap lahir kesadaran kolektif di kalangan kader untuk terus merawat tradisi intelektual, memperkuat keberpihakan sosial, serta menjaga independensi gerakan mahasiswa di tengah dinamika politik dan pemerintahan yang terus berkembang. (Rido)











