Outlook Pamekasan sebagai Kota Aktivis

Avatar

- Pewarta

Kamis, 9 Juli 2026 - 19:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Firman Syah Ali

Pamekasan – Pilar Pos. Sebetulnya, secara administratif, Pamekasan bukanlah sebuah kota, namun sebuah Kabupaten, karena jenis daerah otonomnya adalah Pemerintah Kabupaten bukan Pemerintah Kota. Penulis menyebut Kota di sini bukan dalam konteks administratif, tapi konteks sosio-kultur lokal, di mana seluruh masyarakat Kabupaten Pamekasan menyebut wilayah Kecamatan Pamekasan sebagai Kota. Orang Plakpak dan Orang Batumarmar kalau ijin ke isterinya untuk pergi ke Kecamatan Pamekasan, pasti mengatakan “lek, saya mau ke kota dulu ya”.

​Pamekasan bukanlah sekadar kabupaten di Pulau Madura, dan Kecamatan Pamekasan bukanlah sekadar ibu kota Pemerintahan di Kabupaten Pamekasan. Kecamatan Pamekasan adalah sebuah ekosistem pemikiran kritis dan progresif yang terwujud dalam “Tiada Hari Tanpa Demo”.

Dalam tulisan ini saya sengaja memakai nomenklatur Pemerintahan Kabupaten bukan Pemerintah Kabupaten, sebab definisi Pemerintahan Kabupaten lebih luas, meliputi DPRD dan segenap instansi vertikal Pemerintah maupun Pemerintah Provinsi yang ada di Wilayah Kabupaten Pamekasan.

Dengan julukan Kota Aktivivis, Pamekasan telah membuktikan bahwa keterlibatan civil society dalam proses kebijakan publik bukanlah ancaman, melainkan energi penggerak pembangunan yang sangat signifikan.

BACA JUGA :  Cuaca Madura Hari Ini: Waspada Hujan Petir Pagi Hari, Selebihnya Berawan

Pemerintahan Kabupaten Pamekasan tentu memandang dinamika ini sebagai aset berharga, sebuah bukti nyata bahwa denyut nadi demokrasi di kabupaten relijius ini berdetak dengan sangat kuat.

​AKAR HISTORIS

​Julukan Kota Aktivis tidak muncul dalam semalam sambil meminum secangkir kopi dan mengisap sebatang rokok durno. Secara historis, karakteristik kritis, progresif dan patriotis masyarakat Pamekasan berakar dari tradisi keilmuan dan perjuangan yang panjang. Semboyan “Mekkas Jatna, Jenneng Dibi’” (Memerintah dengan kemampuan sendiri) yang diwariskan sejak era Panembahan Ronggosukowati (1530 M) telah menanamkan nilai kemandirian dan keberanian untuk bersikap seluruh penduduk pamekasan dari masa ke masa.

​Kultur ini diperkuat oleh peran sentral pesantren dan para Kiai. Dalam sosiologi masyarakat Pamekasan, Kiai bukan sekadar pemimpin agama, tetapi juga opinion leader yang membentuk nalar kritis santri dan masyarakat. Sejarah panjang Pamekasan sebagai pusat pendidikan Islam di Madura telah melahirkan generasi yang terbiasa mempertanyakan ketidakadilan, mencari solusi atas kemaksiatan (seperti spirit Gerbang Salam), dan aktif terlibat dalam diskursus publik. Aktivisme di Pamekasan adalah manifestasi modern dari tradisi Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang diadaptasi dalam bentuk pengawalan kebijakan publik.

BACA JUGA :  Viral di Medsos, Warga Tagih Janji Bupati Sampang Akan Perbaiki Jalan Tapaan-Olor yang Tak Terealisasi

​MITRA PEMERINTAHAN

​Jika di masa lalu aktivisme mungkin lebih sering tampil dalam wajah parlemen jalanan, kini kita melihat pergeseran yang menggembirakan. Publik merasakan adanya transformasi. Aktivisme yang dulunya sekadar bersifat oposisional, kini berkembang menjadi aktivisme berbasis solusi.
​Kita menyadari bahwa Collaborative Governance (Tata Kelola Kolaboratif) adalah kunci. Ketika aktivis, akademisi, dan kelompok pemuda memberikan masukan melalui audiensi, forum konsultasi publik, atau diskusi terbuka, mereka sebenarnya sedang membantu pemerintahan “memikirkan Pamekasan”.

Pemerintahan tentu sangat terbantu oleh peran para aktivis sebagai check and balance yang memastikan kebijakan tidak bias dan tetap menyentuh akar rumput.
​Sebagaimana semangat kolaborasi yang terus digalakkan, seperti keterlibatan lintas sektor dalam pembangunan ekonomi (misalnya melalui Pamekasan Economic Fest), pemerintahan kini menempatkan aktivis sebagai mitra strategis dalam mengawal inovasi daerah.

​OUTLOOK

Dengan tingkat partisipasi publik yang tinggi dan berkualitas, visi pemerintahan dan pembangunan Pamekasan akan dapat diwujudkan lebih cepat dan tepat.

BACA JUGA :  Yayasan Ponpes Al Kholiqi Resmikan Cabang Rehabilitasi Pecandu Narkoba di Ngawi

​Masa depan Pamekasan adalah masa depan di mana
​dialog menjadi budaya, di mana ruang-ruang diskusi antara Pemerintahan dan civil society terus meningkat.

​Kreasi dan Inovasi daerah tidak lagi lahir dari atas ke bawah (top-down), melainkan hasil dari sintesis antara kebutuhan masyarakat yang disuarakan oleh para aktivis dan kapabilitas teknis birokratis pemerintahan.

Energi aktivisme yang kritis akan sangat baik jika diarahkan pada pengawasan program-program strategis, seperti transformasi SDM unggul dan penguatan ekonomi inklusif, dan rencana Kawasan Ekonomi Khusus.

​EPILOG

​Pemerintahan pasti mengapresiasi setiap suara yang muncul. Kritik adalah “vitamin” yang menjaga pemerintahan tetap waspada, kreatif, dan dekat dengan rakyatnya. Mari kita jaga tradisi “Kota Aktivis” ini sebagai kebanggaan yang produktif, di mana setiap perbedaan pendapat adalah langkah untuk mendewasakan demokrasi, dan setiap aksi adalah kontribusi bagi kejayaan Bumi Perjuangan.​Pamekasan Berdaya Saing dan Spektakuler bukan karena kita semua seragam, melainkan karena kita semua peduli.

Penulis : Lutfi rizal

Sumber Berita : Lutfi

Follow WhatsApp Channel pilarpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lapor Ketua…! Warga Pulau Mandangin Merasa Dirugikan, Bayar Biaya Pindah Tiang Listrik Tanpa Kepastian
Dugaan Tak Sesuai SOP Menguat: PM Akui Terima MBG B3 Berbungkus Kertas, SPPG Banjarbillah Sampang Disorot
Telan Rp1,9 Miliar, Proyek Peningkatan Jalan Labuhan-Sreseh Sampang Dikerjakan CV Kencana Bahari Tak Bertahan Lama
Mayat Berjenis Kelamin Laki-Laki Diduga Dibakar Oleh OTK di Batumarmar
Serobot Tanah Tanpa Ijin, Warga Bulangan Barat Berujung Lapor Polisi
Kesal, Macet Panjang Akibat Mobil Pengangkut Tembakau Lelet Masuk Gudang Diduga Milik H. Her
Warga Pantura Resah, Adanya Perahu Jaring Ikan Pukat Harimau Yang Berdampak Merusak Ekosistem Laut
Tiket Masuk Pantai Slopeng Sumenep Diduga Dipalsukan, Terlihat Karcis Berupa Foto Copy

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 19:57 WIB

Outlook Pamekasan sebagai Kota Aktivis

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:02 WIB

Lapor Ketua…! Warga Pulau Mandangin Merasa Dirugikan, Bayar Biaya Pindah Tiang Listrik Tanpa Kepastian

Minggu, 5 April 2026 - 16:27 WIB

Dugaan Tak Sesuai SOP Menguat: PM Akui Terima MBG B3 Berbungkus Kertas, SPPG Banjarbillah Sampang Disorot

Kamis, 20 November 2025 - 22:54 WIB

Telan Rp1,9 Miliar, Proyek Peningkatan Jalan Labuhan-Sreseh Sampang Dikerjakan CV Kencana Bahari Tak Bertahan Lama

Kamis, 6 November 2025 - 22:08 WIB

Mayat Berjenis Kelamin Laki-Laki Diduga Dibakar Oleh OTK di Batumarmar

Berita Terbaru

Uncategorized

Outlook Pamekasan sebagai Kota Aktivis

Kamis, 9 Jul 2026 - 19:57 WIB