SAMPANG, Pilar Pos || Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, menjadi salah satu daerah yang mendapat alokasi pembangunan Sekolah Rakyat dalam proyek strategis nasional yang dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Jawa Timur.
Berdasarkan papan proyek yang terpasang di lokasi pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, proyek tersebut merupakan bagian dari Pembangunan Sekolah Rakyat Provinsi Jawa Timur 1 yang mencakup lima daerah, yakni Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Tuban, Kabupaten Sampang, dan Kabupaten Jombang.
Pembangunan dikerjakan oleh Waskita–CAG KSO sebagai penyedia jasa dengan nomor kontrak 560/SPK/Gs19.2/2025. Nilai kontrak proyek mencapai Rp1.165.669.943.000 atau sekitar Rp1,16 triliun, termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025–2026.
Dalam dokumen proyek disebutkan, masa pelaksanaan pekerjaan berlangsung selama 240 hari kalender, sedangkan masa pemeliharaan ditetapkan selama 360 hari kalender setelah pekerjaan selesai.
Meski demikian, pembangunan gedung Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Sampang berpotensi mengalami keterlambatan (terancam molor). Pasalnya, hingga awal Juni 2026 progres pekerjaan baru mencapai 73 persen, sementara waktu pelaksanaan yang tersisa hanya sekitar 19 hari.
Pantauan Pilar Pos di lokasi proyek pada Senin (1/6/2026), aktivitas pembangunan masih berlangsung. Sejumlah pekerja terlihat melakukan pengecoran struktur bangunan menggunakan crane, sementara pekerja lainnya melanjutkan pembangunan plengsengan di sisi barat kawasan yang belum rampung.
Project Manager Sekolah Rakyat Sampang dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Dimas Reza, mengatakan pembangunan dimulai sejak November 2025 dan ditargetkan selesai pada 20 Juni 2026. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai 73 persen.
“Sampai hari ini progresnya sudah 73 persen,” kata Dimas kepada Pilar Pos, Senin (1/6/2026).
Ia menjelaskan, anggaran pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sampang berkisar antara Rp170 miliar hingga Rp200 miliar. Pihaknya menargetkan sebagian fasilitas utama dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada Juli 2026.
“Di Sampang dana nya kurang lebih sekitar Rp170 hingga Rp200 miliar dan ditargetkan selesai di akhir Juni. Sehingga pada bulan Juli sudah ada kelas yang bisa digunakan,” ujarnya.
Menurut Dimas, Sekolah Rakyat Sampang dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu yang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA dengan kapasitas sekitar 1.000 siswa.
Berbagai fasilitas yang dibangun antara lain ruang kelas, asrama siswa, rumah susun guru, masjid, kantin, gedung serbaguna, lapangan upacara, hingga sarana olahraga berupa lapangan sepak bola dan lapangan basket.
Ia menyebut sejumlah pekerjaan yang telah rampung meliputi pembangunan asrama putra dan putri tingkat SMP dan SMA, kantin, lapangan sepak bola, serta akses kawasan. Sementara itu, pembangunan gedung sekolah masih berada pada tahap struktur atas.
“Sejumlah pekerjaan yang sudah rampung meliputi pembangunan gedung asrama putra-putri SMP dan SMA, kantin, lapangan bola, dan akses kawasan. Sedangkan untuk gedung sekolah masih tahap struktur atas,” terangnya.
Untuk mengejar target penyelesaian, pihak kontraktor melakukan percepatan pekerjaan dengan menambah jam kerja para pekerja di lapangan.
Saat ini, sebanyak 1.015 pekerja dikerahkan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Bahkan, pekerjaan lembur dilakukan hingga tengah malam, sementara pengecoran berlangsung sampai dini hari.
“Jumlah pekerja kita sebanyak 1.015 orang. Saat ini kita kerja lembur sampai jam 12 malam, bahkan pengecoran juga dikerjakan sampai jam 02.00 dini hari. Prinsipnya, kita tetap berupaya agar seluruh pekerjaan selesai tepat waktu,” pungkas Dimas.
Penulis : Agus Junaidi
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Pilar Pos











