Dibungkus Pakai Kertas, Pendistribusian MBG dari SPPG di Desa Sreseh Sampang Diduga Tak Sesuai SOP

Avatar

- Pewarta

Jumat, 3 April 2026 - 02:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption: Screenshot Video Paket MBG Menu SPPG di Desa Sreseh, Berbungkus Kertas Yang disalurkan oleh Kader dari Salah-satu Posyandu di Dusun Tasolong (Sumber Foto: Screenshot Video Milik Warga/dok Pilar Pos)

Caption: Screenshot Video Paket MBG Menu SPPG di Desa Sreseh, Berbungkus Kertas Yang disalurkan oleh Kader dari Salah-satu Posyandu di Dusun Tasolong (Sumber Foto: Screenshot Video Milik Warga/dok Pilar Pos)

SAMPANG, Pilar Pos || Pendistribusian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sreseh, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, menuai sorotan publik. Hal itu terjadi setelah sebuah video yang memperlihatkan paket makanan dibungkus menggunakan kertas mendadak viral di media sosial. Jumat (03/4/2026).

Dalam video berdurasi satu menit 18 detik tersebut, seorang warga memperlihatkan paket MBG berisi nasi putih, potongan kecil buah naga, sedikit bihun, serta potongan daging. Menu itu tampak dibungkus secara sederhana menggunakan kertas tanpa wadah ompreng (food tray), sehingga memicu kekhawatiran masyarakat terkait aspek kebersihan dan keamanan makanan bagi penerima manfaat (PM).

Dalam rekaman itu, terdengar suara seorang perempuan yang mengaku paket tersebut diterima oleh cucunya. Dengan nada kecewa, ia bahkan menyebut nama Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

“Ini cucu saya mendapatkan MBG. Ini MBG-nya, ada belahan seperempat buah naga, mi bihun seperti ini kalau beli mungkin sekitar Rp500, ada ikan daging tapi segini. Kenyang cucu Saya, terus sampai ke pihak dapur nya kenyang, tapi cucu saya tidak mau. Bapak Prabowo, gizi bagaimana kalau seperti ini,” ujarnya dalam video.

Video tersebut dibenarkan oleh seorang warga setempat berinisial R. Ia menyebut, paket MBG dalam video itu diterima melalui salah satu Posyandu di Dusun Tasolong, Desa Sreseh, pada Selasa (31/3/2026). Program tersebut disalurkan oleh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Dusun Secang.

BACA JUGA :  Telan Dana Rp287 Juta, Proyek Rabat Beton di Desa Baruh Sampang Tak Bertahan Lama

“Iya, itu MBG dari dapur di Dusun Secang melalui Posyandu di Tasolong. Kalau ke sekolah memang pakai ompreng, tapi yang ke Posyandu dibungkus kertas seperti itu,” ungkap R kepada pilarpos.com, Kamis (2/4/2026).

Warga pun menyayangkan pola distribusi tersebut. Menurut R, program yang ditujukan untuk meningkatkan gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan, seharusnya dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

“Masak cara pendistribusian seperti itu sudah sesuai SOP,” ujarnya.

Diketahui, program MBG tersebut menyasar kelompok B3, yakni balita, ibu hamil (bumil), dan ibu menyusui (busui). Dengan sasaran tersebut, kualitas serta higienitas makanan menjadi hal yang sangat krusial.

BACA JUGA :  KAKI Jatim: SPMB 2026 Surabaya Berjalan Bersih dan Transparan, Layak Jadi Teladan Nasional

Selain video, beredar pula foto paket MBG dengan bungkus dan menu serupa. Namun, pada foto tersebut terlihat tambahan satu iris tahu.

Sementara itu, Kepala SPPG Desa Sreseh di Dusun Secang, Ilham Nadi, membenarkan bahwa paket MBG dengan menu tersebut berasal dari dapurnya. Ia juga mengakui adanya keluhan dari penerima manfaat.

“Pantesan banyak yang komplain kalau modelnya seperti itu. Saya juga pusing. Nanti akan saya konfirmasi ke pihak Posyandu agar tidak terulang lagi,” ujarnya.

Namun demikian, Ilham menegaskan bahwa proses distribusi dari dapur SPPG telah sesuai SOP Badan Gizi Nasional (BGN), yakni menggunakan wadah ompreng, bukan kertas.

Menurutnya, perubahan kemasan diduga terjadi di tingkat Posyandu. Ia menyebut, tindakan tersebut tidak sesuai prosedur karena makanan seharusnya tetap menggunakan wadah asli dari dapur.

BACA JUGA :  Dari Lima Ekor Tersisa Seekor: Sapi BUMDes Pajeruan Sampang Diduga Dijual Diam-Diam, Saat Dikonfirmasi Pemdes Memilih Bungkam

“Itu berarti disalin. Biasanya kader mendapat insentif sekitar Rp1.000 per porsi untuk mendistribusikan ke rumah penerima manfaat dan mengambil kembali wadahnya. Kalau sampai diganti seperti itu, berarti tidak sesuai prosedur. Dari dapur tetap pakai ompreng,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ilham menegaskan bahwa penggantian wadah berpotensi menimbulkan kontaminasi silang yang dapat membahayakan kesehatan.

“Kalau sudah dibungkus seperti itu, jelas menyalahi aturan. Bisa terjadi kontaminasi silang, yang berisiko menyebabkan keracunan,” tegasnya.

Ia pun berharap pihak Posyandu dapat menjalankan distribusi sesuai ketentuan demi menjaga kualitas dan keamanan makanan bagi penerima manfaat.

“Jangan sampai dari dapur sudah pakai ompreng, lalu dipindah ke wadah lain. Itu berisiko, karena kontaminasi bisa dari udara atau sentuhan langsung. Kita tidak tahu, dan itu bisa berbahaya,” pungkasnya.

Penulis : Agus Junaidi

Editor : Redaksi

Sumber Berita : Pilar Pos

Follow WhatsApp Channel pilarpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PPM 2026 Mulai Disiapkan, SKK Migas dan Medco Energi Libatkan Pemda hingga Kelompok Masyarakat
Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Mobil di Jalan Raya Camplong Sampang
Pemuda Pancasila dan Komando HAM Sampang Tolak Eksekusi Lahan Gunung Sekar, Siap Tempuh PK ke Mahkamah Agung
Sampah Menggunung di Depan Pasar Juklanteng, Warga Soroti Kinerja Kepala Pasar dan DLH Sampang
Sebelum Eksploitasi Sumur Hidayah Dimulai, Nelayan Sampang Tuntut Kompensasi Rumpon Rp6 Miliar
Jalan Kedungdung-Bringkoning di Sampang Diresmikan Presiden Prabowo, Material Cor Disuplai PT Sejahtera Jaya Alim Mix
Tumpukan Kayu Kuasai Bahu Jalan Nasional di Sampang, Polisi Diminta Segera Bertindak
Fokus Tingkatkan Kemandirian Warga, Program PPM Medco Energi Tahun 2026 Menyasar Enam Desa dan Satu Pulau di Sampang

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 17:39 WIB

PPM 2026 Mulai Disiapkan, SKK Migas dan Medco Energi Libatkan Pemda hingga Kelompok Masyarakat

Senin, 6 Juli 2026 - 07:56 WIB

Pejalan Kaki Tewas Ditabrak Mobil di Jalan Raya Camplong Sampang

Minggu, 5 Juli 2026 - 21:03 WIB

Pemuda Pancasila dan Komando HAM Sampang Tolak Eksekusi Lahan Gunung Sekar, Siap Tempuh PK ke Mahkamah Agung

Rabu, 1 Juli 2026 - 22:36 WIB

Sampah Menggunung di Depan Pasar Juklanteng, Warga Soroti Kinerja Kepala Pasar dan DLH Sampang

Rabu, 24 Juni 2026 - 22:59 WIB

Sebelum Eksploitasi Sumur Hidayah Dimulai, Nelayan Sampang Tuntut Kompensasi Rumpon Rp6 Miliar

Berita Terbaru