BANGKALAN, Pilar Pos – Kecelakaan lalu lintas parah melibatkan dua kendaraan besar terjadi di Jalan Raya Ju’korong, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, pada Rabu (4/11/2026) sekira pukul 04.00 WIB.
Insiden tragis ini mengakibatkan seorang sopir asal Mojokerto mengalami luka patah tulang yang sangat parah. Peristiwa bermula saat sebuah dump truck berwarna kuning melaju dari arah timur. Sopir dump truck diduga kuat dalam kondisi mengantuk berat hingga tertidur saat mengemudi (microsleep).
Akibatnya, truk kuning tersebut kehilangan kendali dan oleng masuk ke jalur berlawanan.
Pada saat yang bersamaan, sebuah truk bermuatan batu ringan (bata ringan) melaju dari arah barat. Karena jarak yang sudah terlalu dekat, tabrakan hebat tidak dapat dihindarkan hingga menyebabkan truk bermuatan batu ringan tersebut mengalami kerusakan yang sangat parah.
Sopir truk bermuatan batu ringan yang merupakan warga Mojokerto dilaporkan masih dalam kondisi hidup, namun menderita luka patah tulang yang sangat fatal di beberapa bagian tubuhnya.
Aksi Sigap Anggota Sakera Madura dan Kekecewaan Terhadap Layanan Publik
Melihat kondisi korban yang kritis dan bersimbah darah,
Yosi, seorang anggota Sakera Madura yang berada di lokasi, langsung bergerak sigap. Ia secara mandiri mengevakuasi dan membantu korban kecelakaan tersebut hingga membawanya langsung ke rumah sakit terdekat agar segera mendapatkan pertolongan medis.
Namun, aksi kemanusiaan tersebut menyisakan kekecewaan mendalam bagi Yosi akibat lambatnya respons dari aparat penegak hukum dan pihak medis.
“Saya sangat kecewa karena sejak kejadian awal hingga korban sudah masuk ke rumah sakit, tidak ada satu pun anggota kepolisian yang datang ke lokasi maupun ke rumah sakit,” ujar Yosi dengan nada kecewa saat memberikan keterangan.
Hingga 3 jam pasca-kejadian, pihak berwajib sama sekali belum tampak di lapangan untuk melakukan olah TKP maupun mengurai arus lalu lintas.
Kekecewaan Yosi semakin memuncak setibanya di rumah sakit. Bukannya mendapat penanganan medis yang cepat, kondisi rumah sakit justru sepi dan tidak ada perawat yang bersiaga untuk menangani korban darurat yang sedang mengalami patah tulang parah tersebut.
Warga dan pihak Sakera Madura mendesak adanya evaluasi total terkait sistem respons cepat kepolisian setempat serta kesiapan pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit dalam menangani situasi kritis.











