Nahkoda yang Kehilangan Lautnya

Avatar

- Pewarta

Kamis, 28 Mei 2026 - 08:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption: Moh. Ridho Nur Abdillah, Penulis Opini (Sumber Foto: Ridho/Pilar Pos)

Caption: Moh. Ridho Nur Abdillah, Penulis Opini (Sumber Foto: Ridho/Pilar Pos)

OPINI, PAMEKASAN – Pilar Pos || Menjadi pemimpin organisasi mahasiswa hari ini kadang terasa seperti berjalan di tengah kabut yang diciptakan oleh orang-orang sendiri. Setiap langkah harus diambil dengan hati-hati, tetapi tetap saja dianggap salah. Diam disebut tidak becus. Bergerak dituduh haus kuasa. Tegas dicap arogan. Ideal disebut sok suci. Seolah apa pun sikap yang dipilih, selalu ada ruang bagi prasangka untuk tumbuh.

Padahal, tidak banyak yang benar-benar tahu betapa berat menjadi orang yang berdiri paling depan. Seorang pemimpin organisasi bukan hanya dituntut menentukan arah gerakan, tetapi juga dipaksa memikul ego, kepentingan, dan ambisi banyak kepala yang saling bertabrakan. Ia harus menenangkan kader yang kecewa, mendengar senior yang merasa paling berjasa, menjaga pengurus agar tetap bertahan, sekaligus memastikan organisasi tidak kehilangan wajah perjuangannya.

BACA JUGA :  CV Kencana Bahari Respons Cepat Kerusakan Jalan Labuhan-Sreseh Sampang

Namun ironisnya, ketika pundaknya mulai rapuh oleh semua beban itu, sedikit sekali yang benar-benar bertanya, “Apakah ia masih kuat?”

Organisasi mahasiswa perlahan berubah menjadi ruang penuh gema. Banyak suara berbicara tentang perjuangan, tetapi sedikit yang benar-benar hadir dengan ketulusan. Ada yang datang membawa semangat perubahan, namun tidak sedikit pula yang datang sekadar mencari pengaruh, menjaga lingkar kepentingan, atau membangun nama untuk dirinya sendiri. Akibatnya, organisasi tidak lagi berjalan dengan kompas idealisme, melainkan dengan tarikan kepentingan yang saling berebut arah.

Di titik itulah seorang pemimpin mulai kehilangan lautnya. Ia berdiri sebagai nahkoda, tetapi ombak justru datang dari kapalnya sendiri. Kader menuntut keteladanan. Senior meminta penghormatan. Pengurus menginginkan keadilan. Simpatisan berharap kenyamanan. Sementara dirinya sendiri perlahan tenggelam dalam kebingungan yang tidak pernah sempat ia ceritakan kepada siapa pun.

BACA JUGA :  Turun 22,5 Persen dari HPS, Proyek Rehabilitasi Kantor Bakorwil Pamekasan Dimenangkan CV Asal Sampang

Kadang ia ingin tetap idealis, menjaga organisasi tetap bersih dari kepentingan. Tetapi dunia organisasi sering kali terlalu keras untuk menerima orang yang terlalu tulus. Ketika ia mencoba lurus, ia dianggap sedang mencari panggung kesucian. Ketika ia mulai tegas agar organisasi tetap berjalan, ia dituduh berubah menjadi penguasa kecil yang dibalut ambisi.

Pada akhirnya, yang paling melelahkan bukan hanya memimpin organisasi, tetapi menghadapi penilaian manusia yang terus berubah sesuai kepentingannya masing-masing.

Mungkin benar, organisasi mahasiswa adalah tempat belajar. Namun sering kali yang dipelajari bukan hanya tentang kepemimpinan dan perjuangan, melainkan juga tentang bagaimana manusia perlahan berubah ketika kepentingan mulai mengalahkan nurani. Di sana, ketulusan kadang kalah oleh kedekatan. Pengorbanan tertutup oleh pencitraan. Dan orang yang benar-benar bekerja justru sering menjadi pihak yang paling mudah dipersalahkan.

BACA JUGA :  Gus Miftah: Dakwah dengan Pendekatan Kekinian untuk Semua Kalangan

Tulisan ini tidak lahir untuk mencari siapa yang paling benar atau siapa yang paling salah. Tulisan ini lahir dari kegelisahan yang selama ini dipendam sendiri. Dari kebingungan yang tidak pernah benar-benar mendapat ruang untuk didengar. Dari tekanan yang mungkin terlihat biasa di permukaan, tetapi diam-diam mengikis seseorang dari dalam.

Semoga seluruh kader, pengurus, senior, dan simpatisan organisasi mahasiswa dapat belajar saling memahami. Sebab organisasi tidak akan pernah benar-benar sehat jika semua hanya sibuk ingin dimengerti, tetapi lupa bagaimana cara memahami.

Sumber Opini di Tulis Oleh: Moh. Ridho Nur Abdillah.

Penulis : Ridho

Editor : Redaksi

Sumber Berita : Pilar Pos

Follow WhatsApp Channel pilarpos.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aparat Segel Enam Tempat Hiburan Malam Di Pamekasan, Aktivis Menduga Hanya Kedok
Madas Nusantara Pamekasan Ta’ziyah ke Rumah Duka Almarhum K. Fauzi Ali bin Rahmo Abdul Fatah di Plak pak Pamekasan
Rapatkan Barisan Menuju Pemilu 2029, DPC dan PAC Hanura Pamekasan Gelar Konsolidasi Bersama Ketua DPD Jatim Sumarzen Marzuki
Buka Turnamen IVOPAS ke-14, Kapolsek Pasean Ajak Atlet dan Penonton Jaga Sportivitas serta Ketertiban
Polres Pamekasan Amankan Tiga Motor dalam Operasi Antisipasi Balap Liar dan Gangguan Kamtibmas
Pasca Perusakan Gerai Ritel di Palengaan, Polres Pamekasan Gerak Cepat Lakukan Penyelidikan
Dua Pelaku Dugaan Pencemaran Nama Baik terhadap Warga Tlanakan Resmi Divonis Penjara
Polres Pamekasan Tangkap Buron Kasus Pembunuhan Batumarnar 2022 di Jember Setelah Sebulan Penyelidikan

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:52 WIB

Aparat Segel Enam Tempat Hiburan Malam Di Pamekasan, Aktivis Menduga Hanya Kedok

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:26 WIB

Madas Nusantara Pamekasan Ta’ziyah ke Rumah Duka Almarhum K. Fauzi Ali bin Rahmo Abdul Fatah di Plak pak Pamekasan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:30 WIB

Rapatkan Barisan Menuju Pemilu 2029, DPC dan PAC Hanura Pamekasan Gelar Konsolidasi Bersama Ketua DPD Jatim Sumarzen Marzuki

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Buka Turnamen IVOPAS ke-14, Kapolsek Pasean Ajak Atlet dan Penonton Jaga Sportivitas serta Ketertiban

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:18 WIB

Polres Pamekasan Amankan Tiga Motor dalam Operasi Antisipasi Balap Liar dan Gangguan Kamtibmas

Berita Terbaru