Pamekasan, Pilar Pos – Ribuan siswa di sejumlah daerah kini terpaksa gigit jari dan merasa telantar setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang biasa mereka nikmati setiap hari sekolah mendadak dihentikan. Penghentian sepihak ini terjadi menyusul langkah Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat yang melakukan pembersihan data dan pencoretan massal terhadap ribuan satuan pendidikan dari daftar penerima manfaat.
Berdasarkan data evaluasi terbaru dari BGN Pusat, setidaknya 1.653 sekolah telah dikeluarkan dari daftar penerima manfaat. Langkah ini diambil dengan dalih efisiensi anggaran dan pengalihan prioritas agar program lebih tepat sasaran ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah dengan angka stunting yang tinggi.
Mayoritas sekolah yang dicoret merupakan sekolah swasta, sekolah bertaraf internasional, serta sekolah mandiri yang dianggap tidak bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Meski demikian, kebijakan potong kompas dari pusat ini memicu kekecewaan mendalam di tingkat akar rumput. Banyak wali murid mengeluhkan hilangnya fasilitas ini karena dinilai sangat membantu menekan pengeluaran dapur harian serta menjamin kecukupan nutrisi anak selama di sekolah.
Para siswa yang sudah terbiasa mendapatkan jatah makan siang bergizi kini terpaksa kembali membawa bekal seadanya atau jajan sembarangan di luar sekolah.
“Anak-anak sudah telanjur nyaman dan terbantu dengan program ini. Saat tiba-tiba diberhentikan oleh pusat dengan alasan sekolah kami dianggap mandiri, dampaknya langsung terasa. Tidak semua siswa di sekolah non-BOS berasal dari keluarga mampu,” keluh salah satu perwakilan komite sekolah terdampak.
Di sisi lain, karut-marut operasional di lapangan juga memperparah kondisi ini. Selain sekolah yang sengaja dicoret BGN Pusat, ratusan sekolah lain juga ikut berhenti menyalurkan makanan karena Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah kehabisan pasokan akibat keterlambatan pencairan dana dari pusat.
Publik kini mendesak BGN Pusat untuk meninjau ulang parameter penonaktifan sekolah penerima manfaat agar tidak mengorbankan hak gizi para siswa secara sepihak di tengah proses transisi program nasional ini.
Salah seorang Mitra MBG di Pamekasan Madura berimbas sanksi moral dengan diberhentikannya pengiriman MBG sekolah. Bukan hanya siswa yang tidak mendapatkan jatah makan bergizi gratis namun wali murid menggerutu seolah menyalahkan dapur MBG.
“Ini memang aturan dari pusat pemberhentian pengiriman MBG ke sebagian sekolah akan tetapi kami dikena imbasnya, dan kami menjadi korban cemohan dari wali murid dan perkataan yang tidak elok,” Ujar salah seorang Mitra MBG asal Kota Gerbang Salam itu.
Terpisah Siswa Lembaga Pendidikan Islam (Swasta) di Pamekasan, sebut saja Bunga mengatakan jika dirinya merasa kecewa kepada pemerintah utamanya kepada BGN Pusat yang telah memberhentikan pengiriman MBG.
“Kami terbiasa menerima MBG setiap hari dan merasa nyaman karena uang jajan saya lebih hemat dan ditabung dengan adanya MBG ini, akan tetapi semenjak pengiriman MBG tidak ada lagi, kami sangat kecewa kepada Bapak Presiden karena kami harus mengeluarkan uang jajan untuk sarapan pagi di sekolah, sementara orang tua saya dari keluarga tidak mampu,” Keluhannya.
Koordinator MBG Kabupaten Pamekasan Hariyanto saat di hubungi media ini belum bisa dimintai keterangan, saat dihubungi via WhatsApp lebih memilih diam.











