Pamekasan, Pilar Pos | Asta Bhuju’ Agung Toronan menggelar Haul Bhuju’ Agung Toronan ke-266 dan Temu Dzurriyah ke-2, di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (13/8/2026),
Acara tersebut dipenuhi suasana khidmat. Para dzurriyah Bhuju’ Agung Toronan dari berbagai daerah se-Indonesia berkumpul di Asta Bhuju’, kegiatan rutin tersebut menjadi momentum penting bagi para dzurriyah untuk kembali bertemu, mempererat tali silaturahmi, mendoakan para leluhur sekaligus saling mendoakan antar sesama dzurriyah.
Tokoh yang hadir Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman, Ketua Persatuan Bani Bhuju’ (PBB) KH Kholil Muhammad Gunungsari, Wakil keluarga Mahfud MD Firman Syah Ali dan banyak ulama pengasuh pesantren.
Dzurriyah dari berbagai daerah menunjukkan bahwa ikatan genealogis dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur masih menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga besar keturunan Bhuju’ Agung Toronan.
Haul bagi keluarga besar Bhuju’ Agung Toronan tidak hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial. Di balik pelaksanaannya terdapat pesan tentang pentingnya merawat hubungan antar dzurriyah, mengenang jasa para leluhur dan meneruskan nilai-nilai kebaikan kepada generasi berikutnya.
Tema haul kali ini adalah “Satmoto-Molimo”, yang secara kultural meyimbolkan Sunan Giri dan Sunan Ampel, dan secara filosofis mengandung ajaran inti amar ma’ruf dan nahi munkar di tanah nusantara.
Pihak panitia, Firman Syah Ali, menyatakan bahwa dalam filosofi keturunan Sunan Giri, salah satu nilai yang ditekankan adalah “Mapolong Ateh”, yang berarti menyatukan hati.
“Pesan Mapolong Ateh itu memiliki makna yang sangat luas. Para keturunan Sunan Giri diharapkan mampu menjaga persatuan setulus hati dan tidak terpecah hanya karena perbedaan profesi, pekerjaan maupun pilihan politik,” ucap Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU.
“Apapun pekerjaannya, apapun kelas sosialnya, apapun bendera politiknya dan apapun profesinya, keturunan Bhuju’ harus tetap bersatu dan menyatukan hati untuk mendapatkan ridha Allah SWT serta syafaat Nabi Muhammad SAW,” lanjut Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP).
“Semangat tersebut menjadi pesan penting dalam temu dzurriyah. Sebab, perbedaan dalam kehidupan sosial merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan hubungan darah, persaudaraan dan tanggung jawab moral untuk menjaga warisan leluhur,” lanjut Ketua Umum Konfederasi Olahraga NU (KONU).
“Tadi dalam jaul semua melepaskan jubah kebesaran, semua bersatu dan berkumpul secara setara untuk mendoakan sesepuh kita bersama. Alhamdulillah jamaah hadir dari seluruh wilayah Indonesia, termasuk diantaranya Papua” pungkas Pimpinan salah satu perguruan Karate.











