SAMPANG, Pilar Pos || Santri Pondok Pesantren (PP) Gedangan, Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, berhasil meraih juara umum dalam Musabaqoh Antar Delegasi Antar Pengguna Al-Miftah Mifda Sampang (Munada) 4 tingkat Kabupaten Sampang.
Prestasi tersebut diraih melalui delegasi bidang metode baca kitab Al-Miftah Lil Ulum Sidogiri. Dalam kompetisi yang diikuti sekitar 108 lembaga pengguna metode Al-Miftah itu, PP Gedangan berhasil mengumpulkan 1.511 poin dan menempati posisi tertinggi dalam klasemen akhir.
Ajang yang diselenggarakan Tatimmah Sidogiri tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Tarbiyatul Shibyan, Desa Karangpenang Onjur, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang, pada Ahad lalu.
Koordinator Al-Miftah PP Gedangan, Mas Badrus Sholeh Zeid, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian para santri. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bagi pesantren sekaligus bukti kesungguhan santri dalam mendalami kitab kuning.
“Alhamdulillah, kemarin kami berhasil meraih juara umum tingkat kabupaten dari sekitar 108 lembaga yang mengikuti perlombaan,” ujar Badrus, Senin (19/10/2026).
Dalam kompetisi tersebut, para peserta mengikuti sejumlah cabang lomba yang menguji kemampuan membaca kitab, memahami makna kandungannya, serta ketangkasan berpikir.
Delegasi PP Gedangan berhasil meraih juara pertama pada cabang cerdas cermat dan juara kedua pada cabang baca kitab takhassus. Capaian tersebut menjadi penentu keberhasilan mereka mengumpulkan poin tertinggi sekaligus membawa pulang gelar juara umum.
Secara individu, Istiqomah meraih juara kedua pada cabang baca kitab takhassus. Sementara itu, tiga santri lainnya, yakni Auliaul Hasanah, Umamah, dan Humaira Az-Zahra, berhasil meraih juara pertama pada cabang cerdas cermat.
Badrus menjelaskan, cabang baca kitab takhassus memiliki tantangan tersendiri. Peserta tidak hanya dituntut lancar membaca teks kitab, tetapi juga harus mampu menerjemahkan dan memahami makna yang terkandung di dalamnya.
“Dalam lomba takhassus, peserta tidak hanya membaca kitab, tetapi juga menerjemahkan dan memaknai isinya. Jadi, kemampuan yang diuji tidak sebatas kelancaran membaca,” jelasnya.
Ia menilai, prestasi tersebut merupakan buah dari proses pembelajaran, kedisiplinan, dan kesungguhan para santri dalam mempelajari ilmu agama. Meski demikian, Badrus mengingatkan agar keberhasilan itu tidak membuat para santri cepat berpuas diri.
“Prestasi ini sudah cukup membanggakan. Namun, prestasi itu jangan hanya menjadi catatan di atas kertas, apalagi sampai membuat kita merasa paling hebat,” tuturnya.
Badrus berharap, capaian dalam Munada 4 dapat menjadi motivasi bagi para santri untuk terus meningkatkan kemampuan membaca dan memahami kitab kuning. Lebih dari sekadar mengejar prestasi dalam perlombaan, ia ingin para santri semakin memperkuat semangat *tafaqquh fiddin* atau memperdalam ilmu agama.
“Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpanya. Karena itu, jangan sampai terlena dengan prestasi yang sudah diperoleh. Tetap semangat belajar dan jangan mudah berpuas diri,” pungkasnya.
Penulis : Agus Junaidi
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Pilar Pos











