Isra’ Mi’raj Momentum Memperkuat Integritas

Bagikan Via:
Hadi D. Mapuna (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw., kembali diperingati oleh umat Islam. Peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-10 kenabian atau antara tahun 620-621 M itu diperingati sebagai salah satu peristiwa besar, agung dan menakjubkan, yg dialami oleh Nabi Muhammad saw.

Sungguh suatu perjalanan yang luar biasa yang jika didekati secara akal, hal itu tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, dengan pendekatan keimanan akan kemahakuasaan Allah swt., maka perjalanan itu sangat mudah bagi Allah swt.

Menjemput Perintah Sholat

Perjalanan Nabi Muhammad saw., dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini, selain untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah, juga untuk menjemput perintah sholat langsung dari Allah swt. Inilah yang menjadi maksud utama Allah swt., memanggil hambaNya, Muhammad saw., untuk menemuinya di Sidratul Muntaha.

Penerimaan perintah sholat lima waktu yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad saw., menunjukkan keistimewaan sholat di dalam ajaran Islam. Hal itu ditegaskan dalam berbagai hadis, antara lain; “Solat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan sholat maka sesuangguhnya dia telah menegakkan agamanya, dan barang siapa meninggalkan sholat maka dia telah meruntuhkan agamanya.” (HR. Buhari dan Muslim). Di hadis lain, Nabi Muhammad saw., bersabda; “Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah sholat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Baca Juga:  Operasi Ketupat Semeru 2024, Polda Jatim Berhasil Tekan Angka Kecelakaan dan Gangguan Kamtibmas

Berbeda dengan perintah-perintah lainnya di dalam ajaran Islam. Allah swt., menurunkan perintah-perintah tersebut kepada Nabi Muhammad saw., berupa wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril. Perintah-perintah tersebut dapat dibaca di dalam ayat-ayat al-quran dan penjelasan lebih terperinci di dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Misalnya perintah puasa (QS. al Baqarah : 183), perintah mengeluarkan zakat (QS. al Taubah: 103) dan perintah melaksanakan ibadah haji (QS. al Hajj : 27).

Itulah sebabnya ibadah sholat menduduki posisi penting di dalam ajaran Islam. Bahkan sholat menjadi pembeda antara muslim dan kafir.

Perkuat Integritas

Setiap kali memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw., tema utama pembicaraan adalah tentang sholat. Para ustadz, para muballig, para pembicara di dalam peringatan Isra’ Mi’raj mengingatkan kembali mengenai kedudukan, keistimewaan dan fungsi sholat, baik bagi pribadi maupun bagi masyarakat, bahkan bagi sebuah bangsa.

Bagi seorang muslim, sholat merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan lima waktu sehari semalam. Ketaatan dalam melaksanakan perintah ini menjadi tolok ukur ketaatan kepada Allah swt. Seorang muslim yang taat sholat membuktikan bahwa dirinya tunduk dan patuh di dalam menjalankan perintah. Tidak ada alasan bagi seorang muslim meninggalkan sholat. Sebab, sholat dapat dilakukan dalam kondisi apapun, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Baik dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit. Sholat dapat dilakukan dalam keadaan berdiri maupun dalam keadaan duduk. Bahkan dapat dilakukan dengan gerakan isyarat jika menderita sakit parah.

Baca Juga:  Polda Jawa Timur Siapkan 16 Ribu Personel Gabungan Saat Mudik Lebaran

Mengapa sholat demikian penting? Karena, selain menunjukkan ketaatan kepada Allah swt., sholat juga membawa berbagai dampak positif bagi seseorang, misalnya, menjadi seorang yang disiplin, jujur, dan rendah hati. Sholat mencegah seseorang melakukan perbuatan keji dan munkar (QS. al Ankabut : 45). Sehingga dapat dipastikan bahwa seorang yang sholat dengan baik, benar dan menghayati hakikatnya, tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan jahat, perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.

Peringatan Isra’ Mi’raj yang mengusung tema utama tentang sholat dapat dijadikan sebagai momentum untuk memperkuat integritas, baik integritas dalam kehidupan pribadi maupun integritas dalam kehidupan bermasyarakat.

Penguatan integtitas terasa semakin penting mengingat kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa kita akhir-akhir ini. Berbagai penyimpangan, berbagai kezaliman dan kejahatan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Hal itu karena semakin menipisnya, untuk tidak mengatakan, semakin hilangnya integritas. Apalagi saat ini kita sedang berada di tahun politik menuju Pemilu 2024. Ujian terhadap integritas semakin kuat dan masif. Sehingga jika tidak dilakukan penguatan-penguatan niscaya akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa serta mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat.[*]

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X